Author Topic: Peternak Lobster di Bali Tertib Protokol Kesehatan Covid-19  (Read 154 times)

felicia

  • Newbie
  • *
  • Posts: 3
  • Nilai Diskusi: +0/-0
    • View Profile
    • blog saya

Senada dengan Nengah yang mulai intens menggarap pasar lokal, Steven, petam bak di Bali Utara juga mengungkapkan hal serupa.
Menurutnya pasar lokal harus digarap lebih serius. Seluruh pihak harus terlibat. Kita ini butuh tongkat komando, dan masyarakat pembudidaya jangan dibuat bingung terkait boleh atau tidaknya berbudidaya di tengah situasi seperti ini, ujar Steven.

Menurut Steven, aktivitas budidaya tidak bisa di­stop karena ini berkaitan dengan ketersediaan logistik. Kita hadapi saja dan terima.
yang harus kita lakukan adalah perketat SOP (Standar Operasional Prosedur) dan jaga keselamatan kerja SDM (sumber daya manusia). Semua pelaku usaha budidaya dan SDM harus kompak. Disiplin menjadi kuncinya , tegasnya. Upaya­upaya yang ditemput terkait ini misalnya dengan melengkapi perlengkapan kerja dengan standar kesehatan selama pandemi. Sanitasi kita tingkatkan.

Disinfektan, hand sanitizer kita produksi sendiri dan disediakan untuk semua yang keluar masuk area budidaya, imbuh Steven. Seluruh pekerja tambak lobster air tawar juga harus menggunakan masker, sarung tangan, sepatu bot ketika sedang bekerja dan berada di areal tambak, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan kerja. Soal memperketat SOP ini Steven mengaku, manajemennya sempat mengalami kebingungan soal penerapa jam kerja karena surat edaran pemerintah daerah (pemda) mengalami revisi beberapa kali. Kasihan masyarakat. Ini ber­impact ke psikologis kerja soalnya. Sosialisasi masih kurang, SDM kita jadi bingung, keluh Steven.

Selain itu, kebijakan yang berubah­ubah ini juga memicu luktuasi harga udang. Ketika isu lockdown wilayah dan pemberlakuan jam kerja hanya 4­5 jam muncul, harga udang turun hingga Rp 10 ribu per kg. Di sisi lain, Steven juga mendukung kebijakan KKP terkait akses kelancaran pengiriman logistik input produksi hasil perikanan budidaya.

Kita membutuhkan kebijakan yang bisa memberikan pertolongan pasar. Salah satu kategorinya, benih udang tetap diperbolehkan untuk digerakkan, dan masyarakat tetap bisa berbudidaya. Kita juga sedang menunggu deal pemerintah dengan BUMN andai kata
bandara ditutup. Untuk akses logistik, semoga tarif ekspor jadi dikurangi, harapnya.

Ia pun memberlakukan masa darurat 64 hari ke depan bagi manajemen budidayanya. Sementara ini, kita menetapkan masa darurat
64 hari ke depan (hingga akhir Mei). Selama itu, logistik karyawan masih aman, pungkasnya. Steven juga tengah mengembangan inovasi pemanfaatan air tawar untuk pengembangan sistem pertanian hidroponik. Ini tujuannya juga untuk antisipasi dan menambah keragaman produk. Terutama nanti untuk kebutuhan internal, katanya. Baik Nengah maupun Steven, keduanya sepakat bahwa aktivitas budidaya harus terus dijalankan. Kita tak banyak pilihan sekarang.

Asosiasi juga saatnya bergerak. Para anggota, ayok bergandengan. Situasi seperti sekarang selain jadi momentum bagi kita untuk semakin kuat, juga sebagai momen instrospeksi diri. Orang Bali bilang, mulat sarira. Momen bagi kita untuk semakin peduli pada lingkungan juga sesama. Pangan akan menjadi konsen kita untuk bertahan. Dan yang terpenting, jalankan SOP dengan disiplin, tegas Nengah.